Resensi Novel Sayap-Sayap Patah

0
328

Judul              : Sayap-sayap Patah

Penulis           : Kahlil Gibran

Tahun Terbit: 1988 Cetakan ke –IV

Penerbit         : Pustaka Jaya, Jakarta

 

Sinopsis


Novel ini umumnya menggunakan sudut pandang orang pertama, yakni Gibran sendiri. Ia bercerita tentang kegetiran cinta yang dialaminya. Kekasih yang dicintai terpaksa menikahi orang lain yang memiliki kedudukan tinggi daripadanya.

Sang kekasih, Selma Karamy, sebenarnya adalah anak dari sahabat dekat ayahnya di masa muda yang dibesarkan tanpa seorang ibu. Ini membuat  sang Ayah nan kaya, sangat menyayangi dan dan membesarkannya dengan baik. Sayangnya, cinta itu terpaksa terhalang oleh kekuasaan agamawan yang bermotifkankan materi.

Gibran mulai jatuh hati kepada sang kekasih ketika ia mula-mula datang berkunjung kerumah Selma untuk menemui ayahnya, Farris Effandi. Karena Gibran merupakan anak dari sahabat erat Farris, dia diajak untuk bernostalgia mendengarkan cerita-ceritanya dengan ayah Gibran pada masa muda. Gibran kemudian sering berkunjung kerumah Farris untuk bercengkrama sekaligus memandang diri Selma yang ia cintai. Gayung bersambut, Selma ternyata juga mencintainya dengan sepenuh hati. Hal ini semakin menarik ketika sang Ayah sebenarnya mengetahui dan merestui hubungan mereka berdua. Jadilah mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk membagi rasa dalam untaian cinta.

Prahara datang ketika seorang pendeta melamar Selma untuk keponakannya. Lamaran ini bukanlah murni cinta kasih yang tulus dari sang keponakan. Akan tetapi merupakan sebuah usaha untuk mengambil kekayaan ayah Selma. Sehingga kependetaan, yang merupakan otoritas yang dipandang tinggi pada waktu, itu digunakan untuk melakukan tindakan kesewenang-wenangan. Sebab itulah Farris kemudian menerima lamaran ini, walau dengan kesedihan yang amat mendalam.

Cinta Gibran dan Selma sebenarnya tidak berakhir sampai disini. Walaupun Selma telah menikah dengan keponakan pendeta yang memiliki kebiasaan buruk, mereka bertemu secara rutin di sebuah kuil kuno yang berisikan potret Isytar dan Kristus, Dewi Cinta dari masa lalu dan sang Penyelamat masa sekarang. Hingga pada suatu saat, Selma mengambil keputusan untuk berpisah dengan Gibran.

Keputusan berat ini diambil Selma untuk menyelamatkan Gibran dari penderitaan, yang juga telah berlarut-larut dialami Selma sendiri. Sempat untuk mengajak Selma lari, Gibran akhirnya menuruti keputusan sang kekasih, karena bagi Selma sendiri ia adalah sayap-sayap patah yang takkan bisa terbang lagi.

Selma kemudian meninggal tak lama setelah dia melahirkan bayi laki-lakinya yang hanya berusia dari ujung malam sampai terbit matahari. Gibran juga turut mengantar jenazahnya ke tempat pembaringan terakhirnya. Dengan demikian, lengkaplah sudah penderitaan Gibran.

Komentar

Jika dibandingkan dengan kisah cinta sejenis yang berlatar belakang negeri Arab seperti Laila Majnunnya Nizami, jelas novel ini memiliki sisi keunikan tersendiri. Titik masalah dalam Sayap-sayap patah terletak pada perampasan yang dicintai dari sang pecinta sedangkan pada Laila Majnun keluarga sang kekasihlah yang memberikan penolakan.

Kelebihan novel ini terletak pada lirik puitisnya yang sarat makna dan kritik yang disampaikannya. Cinta dimaknai sebagai usaha untuk mencintai cinta, tidak harus memiliki yang dicintai. Sebab pada akhirnya semua akan dikembalikan kepada Tuhan, Sang Pemilik Cinta. Adapun objek kritik dalam kisah ini adalah penyelewengan kekuasaan agamawan dan perempuan yang dijadikan seperti barang dagangan.

Kritik untuk novel ini adalah cinta yang senantiasa dialamatkan kepada Tuhan namun melanggar agama yang notabene merupakan aturan dari Tuhan itu sendiri. Bagaimana mungkin seorang yang sudah mempunyai suami masih berhubungan dan berkasih-kasihan dengan orang lain yang dicintainya. Artinya penyerahan diripun tidak utuh kepada Tuhan. Konsep takdir terlihat seakan-akan bisa diakali.

Kesimpulan

Novel sastrawan dunia ini perlu dibaca oleh manusia saat ini, terutama anak muda. Karena menawarkan perspektif baru mengenai cinta. Saat ini cinta dimaknai sebagai kepemilikan utuh pada yang dimiliki. Bahkan penyimpangan dalam bercinta menjadi lebih jauh ketika cinta mesti dibuktikan dengan penyerahan diri, khususnya oleh perempuan, terhadap pria yang mencintainya. Sehingga perempuan pada akhirnya menjadi korban cinta itu sendiri.

Berbagi dengan teman..
Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Tinggalkan Balasan