RASA INFERIOR KITA!

0
54
sumber foto http://nu.or.id

Budaya yang berkembang di Indonesia saat ini bukanlah budaya yang telah kita warisi semenjak zaman Nusantara dulu. Tetapi budaya yang berasal dari suatu kawasan tertentu yang bersifat transnasional dimana sebagian besar sangat jauh dengan nilai-nilai kultural milik kita.  Misalnya dari segi musik, K-Pop dan Western Music sudah sangat melenakan anak muda, bahkan sampai ada yang mengidentifikasikan diri dan jenis musiknya dengan musik-musik tersebut, sehingga muncullah photo copy dari jenis-jenis musik asing itu beserta variannya. Alhasil, alunan gamelan, pertunjukan wayang , angklung, saluang, kecapi dan jenis musik tradisional khas Indonesia lainnya semakin hari semakin jarang kita jumpai.

Ditinjau dari kondisi kultural tersebut, secara psikologis penulis melihat adanya semacam inferioritas, yaitu perasaan rendah diri terhadap sesuatu yang dianggap lebih dari pada yang kita miliki,  dalam diri bangsa Indonesia khususnya anak muda. Karena yang dianggap gaul dan keren adalah hal yang sedang nge-trend didunia seperti jenis musik yang telah dibicarakan. Sehingga ada kebanggaan tersendiri ketika mengikuti tren tersebut. Mungkin, kalau kita ditanya mengenai jenis kesenian apa yang disuka lalu kita menjawab dengan alunan kecapi atau nonton wayang, barangkali kita akan dikira tidak gaul, jadul dan sejenisnya. Dengan demikian, kultur Indonesia secara tidak langsung sudah terjajah.

Faktor utama dari inferioritas ini adalah kontak antar  budaya yang sudah tidak dapat dielakkan lagi. Pada proses kontak tersebut manusia bisa menjumpai budaya yang dinilainya lebih menarik dan lebih tinggi dari pada budaya yang diwarisinya. Apalagi dalam konteks dunia saat ini dimana batas-batas negara seakan-akan tidak ada (borderless country). Hal ini ditandai dengan arus informasi yang sedemikian cepatnya bergulir, melintasi batas ruang dan waktu, sehingga hal apapun yang baru terjadi, ditemukan atau ditampilkan disuatu negara akan dengan cepat sampai di negara lainnya diseluruh dunia.

Di dalam proses kontak antar budaya, terutama yang ditampilkan lewat berbagai media, terdapat proses penyajian budaya yang dilakukan secara berulang meskipun dalam kemasan yang berbeda. Misalnya suatu kali adegan berpelukan ditempat umum di tampilkan lewat sebuah film. Kemudian pada film yang lain, adegan serupa ditampilkan lagi, lalu pada sebuah video klip musik, selanjutnya pada majalah remaja dan begitu seterusnya.

Pengulangan (repetition) secara terus menerus seperti ini untuk kali pertama akan menimbulkan kesan bahwa hal itu tidak dapat diterima karena memang tidak sesuai dengan kultur yang dimiliki Indonesia. Namun setelah dialami beberapa kali mulai timbul perubahan kesan; alangkah romantisnya adegan itu. Lalu terciptalah suatu formasi persepsi pada otak, bahwa adegan yang demikian merupakan hal yang biasa ketika orang bermadu kasih. Ketika telah terbentuk persepsi seperti ini, maka yang bersangkutan akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Proses yang sama juga berlaku terhadap hal lain, seperti pakaian, tarian, makanan dan lain sebagainya.

Hal lain yang terjadi akibat kontak budaya melalui media adalah rasisnya manusia Indonesia terhadap dirinya sendiri. Dalam iklan-iklan produk kecantikan dilukiskan secara tersirat, bahwa yang cantik itu adalah perempuan yang berkulit putih, tinggi dan bertubuh langsing serta berambut lurus. Demikian pula pada laki-laki, bahwa yang dinilai ganteng adalah berkulit putih, berdada bidang, tinggi dan macho serta kalau bisa yang berhidung mancung. Padahal rata-rata kulit orang Indonesia adalah sawo matang dan kuning langsat serta ada pula etnis yang rambutnya keriting semenjak lahir. Namun yang ditampilkan dalam iklan adalah bintang yang telah dipoles sedemikian rupa atau bintang yang blasteran sehingga berkulit putih, berambut lurus dan seterusnya. Akibatnya berlomba-lombalah kaum muda Indonesia mempercantik dirinya dengan produk yang ditawarkan, tanpa mengkritisi konten dan maksud iklan terkait.

Paparan diatas menunjukkan bahwa rasa inferioritas bangsa Indonesia sekarang, khususnya para pemuda, merupakan kenyataan yang mesti disadari. Mesti ada usaha-usaha kultural maupun politis untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budayanya sendiri. Selain itu hal yang harus sangat diperhatikan adalah bagaimana usah-usaha untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap bangsa dan budaya sendiri. Hal-hal yang demikian diperlukan untuk mempertinggi rasa percaya diri kita sebagai suatu bangsa ditengah – tengah gempuran budaya asing. Sehingga kita bisa menampilkan diri tanpa harus merasa inferior apalagi rasis terhadap diri kita sendiri.

Berbagi dengan teman..
Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Tinggalkan Balasan