Catatan Kecil dari Iowa

Sepakbola kain sarung di Schiletter Village, Ames. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kesempatan untuk belajar ke negeri Paman Sam merupakan kesempatan yang cukup langka apalagi belajar ke sana dengan menggunakan beasiswa. Karena itu dalam tulisan ini pertama kali penulis ingin mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan itu kepada penulis, sehingga bisa merasakan atmosfir dunia universitas Amerika Serikat selama dua bulan. Kemudian terima kasih kepada orangtua dan sanak famili yang telah mendukung sepenuhnya. Tidak lupa juga kepada Bapak Dosen UIN Sunan Kalijaga: Pak Andi, Pak Zidni dan Pak Hilal yang telah bersedia memberikan surat rekomendasi kepada penulis sebagai salah satu persyaratan beasiswa tersebut.

Program beasiswa ini bernama IELSP (Indonesian English Language Study Program), sebuah program beasiswa belajar bahasa dan budaya Amerika bagi mahasiswa Indonesia yang disponsori oleh US Department of State lewat kedubes Amerika Serikat di Indonesia yang disalurkan dan dikelola oleh IIEF (Indonesian International Education Foundation). Ada 80 orang mahasiswa Indonesia yang meraih beasiswa ini. Mereka di bagi ke dalam 4 kampus yaitu Iowa State University, Arizona State University, University of Kansas dan Colorado State University.

Di Amerika penulis belajar di Iowa State University (ISU) yang terletak di Ames, sebuah kota yang terdapat di  negara bagian Iowa. Di sana penulis belajar bahasa Inggris lewat program IEOP (Intensive English and Orientation Program). IEOP merupakan semacam program persiapan bahasa bagi mahasiswa asing yang akan menempuh kuliah reguler di ISU. Pada program IEOP disediakan kelas wajib yaitu Reading/Writing, Listening/Speaking (Oral Communication),Grammar, yang mempunyai tiga tingkatan dimana mahasiswa dimasukkan kedalam kelas yang sesuai dengan kemampuannya. Kemudian kelas pilihan wajib tes bahasa yaitu IELTS, Toefl IBT, Toefl PBT serta kelas pilihan skill yaitu Science, Drama, Cooking, Music, Photography, Autobiography dan Public Speaking.

Kini, setelah kembali pulang dari Amerika, ketika orang bertanya mengenai apa yang penulis dapatkan sewaktu disana jawabannya hanya satu yaitu Energi Baru. Penulis mengatakan Energi karena hal ini (mungkin) jarang kita dapatkan di Indonesia. Pertama yaitu perihal budaya baca. Di ISU, budaya baca civitas akademikanya tinggi. Hampir disetiap tempat kita berada, akan mudah menemukan mahasiswa yang sedang membaca baik di halte bus, dalam bus, taman,  dan dikampus sendiri.

Suatu hal yang unik yang terlihat ketika sedang menunggu bus di halte. Waktu itu pernah melihat seorang pria muda berambut acak, berkaca mata dan berpakaian lusuh. Dia berjalan menuju halte sambil membaca. Setelah naik bus yang kebetulan penuh, pria tersebut bergantungan dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain tetap memegang buku yang sedang dibacanya. Beberapa saat kemudian ada penumpang yang turun lalu si pria kemudian duduk dengan masih tetap membaca bukunya dengan serius.

Penulis kemudian menanyakan perihal pria tersebut kepada seorang mahasiswa pasca sarjana dari Indonesia yang kebetulan naik bus yang sama. Ternyata pria tersebut merupakan profesor Ilmu Politik lulusan Harvard, uedan!  Setelah penulis eksplorasi lebih lanjut, masyarakat di sana ternyata juga mempunyai budaya baca yang tinggi. Orang-orang antri menunggu perpustakaan kota dibuka. Termasuk dalam komponen masyarakat ini bukan hanya yang berusia produktif tetapi orang-orang tuapun masih banyak yang ke perpustakaan untuk membaca atau meminjam buku.

Kedua adalah disiplin yang ketat. Di dalam proses belajar mengajar tidak ada toleransi keterlambatan sama sekali. Bahkan dosennya datang lebih duluan dari pada mahasiswanya. Begitu waktu belajar masuk, dosen akan langsung mengabsen mahasiswanya satu persatu. Mahasiswa yang terlambat tetap diperbolehkan masuk kelas namun presensi kehadirannya sudah tidak bisa diisi lagi.

Ketiga, apresiasi dosen terhadap mahasiswa yang cukup tinggi. Misalnya mahasiswa diberikan tugas untuk membuat suatu tulisan. Pertemuan berikutnya setelah tugas itu diserahkan kita akan melihat tulisan tersebut diperiksa serinci mungkin. Sebagai mahasiswa kita mudah memamahami kekeliruan yang telah dilakukan. Terkait dengan dosen, kemudian penulis tanyakan lebih lanjut kepada salah seorang mahasiswa pasca sarjana disana. Dikatakan bahwa 60% pekerjaan dosen itu adalah meneliti, 20% mengajar dan 20% pelayanan mahasiswa. Dosen juga mempunyai office hour (jam kantor), di mana pada jam-jam tersebut, kecuali sedang mengajar, dosen bisa ditemui di ruangannya.

Keempat adalah mengenai kesadaran hukum masyarakat yang cukup tinggi. Suatu kali diceritakan oleh seorang dosen didalam kelas bahwasanya orang tidak akan boleh merokok dan meminum minuman keras kecuali setelah dia berumur 21 tahun keatas. Itupun hanya boleh di rumah atau di tempat-tempat tertentu saja.

Tertarik membuktikan hal ini penulis lalu mengajak salah seorang kawan dari Brazil, Thiago, untuk nongkrong di bar. Di dalam bar Thiago memesan bir dan penulis juga mengatakan hal yang sama. Setelah paspor diperiksa oleh bartender-nya, penulis tidak diperbolehkan memesan bir, karena masih berumur dibawah 21 tahun. Penulis kemudian ngotot dengan mengatakan bahwa beberapa bulan lagi umur penulis akan menjadi 21 tahun. Si Bartender kemudian menjawab bahwa dia akan dipenjara kalau tetap memberikan bir kepada penulis.  Begitu pula halnya dengan merokok, penulis belum pernah menjumpai satu orangpun yang merokok di lingkungan kampus, kalaupun mahasiswanya merokok di apartemen itupun dengan sembunyi-sembunyi.

Terakhir adalah The things that we have seen in the movie, just in the movie. Kata-kata yang dicetak miring tersebut adalah hasil percakapan penulis dengan seorang gadis Amerika, Amy, ketika sama-sama terjebak hujan setelah perpustakaan tutup. Misalnya dalam film-film Amerika kita melihat aktor dan aktris dengan latah mengatakan kata-kata fuck, hell, son of a bitch, motherfucker dan kata-kata kotor semacamnya. Ternyata orang Amerika mengucapkan kata-kata tersebut kalau mereka benar-benar marah kepada orang lain.

Contoh lainnya adalah mudahnya mengajak tidur seorang wanita ketika percakapan dengannya menarik, ternyata itu bertentangan dengan fakta kecuali kalau si wanita benar-benar mabuk. Persoalan lainnya yang menarik adalah perihal virginitas. Bahwa tidak semua orang menganut paham free sex. Amy mengatakan proporsi mahasiswi disana yang menjaga kegadisannya dengan yang tidak masih 50:50. Bahkan, dalam kesempatan yang berbeda, ketika penulis berbincang dengan mahasiswi lainnya, Faith, dia mengatakan bahwa dia telah menikah pada usia 18 tahun dengan alasan untuk menghindari perzinaan.

Sebagai penutup tulisan ini penulis hendak menyampaikan bahwa hal-hal yang penulis paparkan diatas bisa hendaknya dijadikan bahan pembanding. Sehingga dengan melihat kondisi orang lain, kita dapat merenungi keadaan diri saat ini. Di mana posisi kita, negeri ini dan seterusnya. Semoga energi yang penulis dapat bisa pula dirasakan oleh pembaca tulisan ini. Wallahu’alam

Berbagi dengan teman..
Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Tinggalkan Balasan